KENDAL-RADARPOSNUSANTARA.COM– RSUD Dr. Soewondo Kendal kembali menggelar kegiatan penanganan stunting terpadu sebagai upaya meningkatkan kualitas kesehatan anak sekaligus menekan angka stunting di Kabupaten Kendal. Kegiatan yang merupakan rangkaian program ke-6 ini melibatkan puluhan anak yang sebelumnya telah teridentifikasi mengalami stunting berdasarkan pendataan dari puskesmas.
Sebanyak sekitar 30 hingga 32 anak mengikuti kegiatan tersebut. Seluruh peserta merupakan anak yang telah melalui proses skrining awal di puskesmas dan kemudian dirujuk untuk mendapatkan pemeriksaan serta pendampingan lebih lanjut di RSUD Dr. Soewondo Kendal.

Dokter Spesialis Anak RSUD Dr. Soewondo Kendal, dr. Lauren, menjelaskan bahwa setiap peserta menjalani serangkaian pemeriksaan secara menyeluruh. Tahapan diawali dengan pengukuran berat badan, tinggi badan, dan pencatatan usia anak untuk menentukan status gizi.
Selanjutnya, tim medis melakukan food recall, yakni menggali pola makan yang selama ini diberikan keluarga kepada anak. Langkah ini dilakukan karena salah satu penyebab stunting adalah pola pemberian makan yang belum memenuhi kebutuhan gizi seimbang, baik dari sisi karbohidrat, protein, maupun zat gizi lainnya.

“Setelah dilakukan penilaian status gizi, anak diperiksa oleh dokter untuk memastikan apakah benar mengalami stunting serta melihat ada tidaknya penyakit penyerta yang dapat memperburuk kondisi, seperti anemia, tuberkulosis (TB), penyakit jantung bawaan, hingga hipotiroid,” ujar dr. Lauren.
Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, tim dokter kemudian menghitung kebutuhan energi dan protein setiap anak. Sebagai bentuk intervensi, peserta menerima susu tinggi kalori hasil kerja sama dengan Kementerian Kesehatan. Setelah itu, ahli gizi memberikan edukasi kepada orang tua mengenai menu makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizi anak agar dapat diterapkan di rumah.
Pada pelaksanaan program kali ini, RSUD Dr. Soewondo juga menambahkan pemeriksaan laboratorium berupa skrining anemia. Langkah tersebut dilakukan setelah evaluasi enam bulan sebelumnya menunjukkan sekitar 25 persen anak peserta mengalami anemia, sehingga diperlukan deteksi dini untuk mendukung keberhasilan penanganan stunting.
Menurut dr. Lauren, penanganan stunting tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga mencari penyebab lain yang dapat menghambat pertumbuhan anak.
“Stunting sering kali tidak berdiri sendiri. Ada penyakit penyerta yang harus diobati terlebih dahulu. Karena itu, selain memperbaiki asupan gizi, kami juga melakukan pemeriksaan untuk mengetahui faktor-faktor lain yang memengaruhi pertumbuhan anak,” jelasnya.
Ia menambahkan, faktor lingkungan dan pola pengasuhan masih menjadi penyebab yang lebih dominan dibanding faktor keturunan.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi RSUD Dr. Soewondo Kendal dengan berbagai pihak. Data sasaran diperoleh dari puskesmas, sementara dukungan sosial juga datang dari BAZNAS yang turut membantu pemberian bantuan kepada peserta.
Melalui program penanganan stunting terpadu ini, RSUD Dr. Soewondo Kendal berharap kondisi kesehatan anak-anak yang mengalami stunting dapat terus membaik sehingga mampu tumbuh dan berkembang secara optimal, sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan prevalensi stunting di Kabupaten Kendal.
( Red / Rkm )