Jamaah Kesal Karena Khotib Dalam Khotbahnya Gunakan Bahasa Jawa kuno, Sudah Tidak Relevan Keluhnya

KENDAL | RADARPOS USANTARA.COM – Meskipun pelaksanaan idul Fitri tahun 2024 ini tidak semeriah tahun- tahun sebelumnya, namun antusiasme masyarakat untuk mudik mengunjungi para keluarga dan kerabat di kampung tidak menyurutkan semangat mereka.

Terbukti hampir semua jalur mudik dipadati pengguna jalan baik yang menggunakan roda empat maupun roda dua.

Banyaknya orang yang mudik tersebut bisa dilihat dari jamaah yang mengikuti sholat Ied, seperti di desa Ngampelwetan Kecamatan Ngampel Kabupaten Kendal, jamaah sampai meluber ke halaman masjid.

Salah satu warga Krajan II desa setempat, Jatmiko ( 38) menyayangkan saat Khotib membawakan khotbahnya masih plagiaris dengan menggunakan metode kuno, yaitu dengan membaca kitab-kitab yang bahasannya sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini.

Apalagi Khotib, terlalu banyak membacakan ayat-ayat yang terjemahannya masih menggunakan kata “ingsun, Siro” yang jelas ini tidak dipahami oleh generasi millenial maupun Gen Z.

“Harusnya, khotbah pada saat idul Fitri itu menggunakan bahasa Indonesia, karena idul Fitri itu sifatnya kan nasional, banyak pendatang yang ikut sholat, bagaiman mereka bisa tau, kalau masih pakai bahasa ingsun Siro seperti tadi,” katanya dengan nada kesal kepada awak media ini, Rabu 10/04/24.

“Berbeda dengan khotbah sholat Jum’at, pakai bahasa jawa kuno (kromo Inggil) nggak masalah, karena pendengarnya adalah internal orang kampung sendiri, lha ini kan Idul Fitri, banyak pendatang dari luar kota,” tambah Miko.

Oleh karena itu, Miko berharap agar posisi Khotib sudah saatnya dilakukan regenerasi, yang tua cukup menjadi imam saja, di ganti dengan yang muda, agar isi materi khotbahnya bisa menyesuaikan dengan perkembangan jaman.

“Apalagi saat ini, semua sudah serba Android, sudah memasuki era 5.0, kok masih ada Khotib membacakan khotbahnya dengan plagiarisme bahasa kuno,” imbuhnya dengan kesal.

Miko juga berharap agar kedepan Khotib cukup mengutip satu dua ayat saja, terus di kias kan dengan kehidupan kekinian, sehingga bisa masuk di hati para jamaah, jangan waktunya di habiskan untuk membaca surat-surat dan hadits-hadits yang tidak dipahami oleh jamaah.

Semenatara itu Khotib KH. Muhammad Zain pada khotbahnya mengajak kepada seluruh jamaah untuk memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT, sehingga atas Rahmat serta Inayah Nya, kita semua bisa melaksanakan puasa Romadlon dengan khusuk selama sebulan.

“Sehingga pada hari yang Fitri ini, kita bisa menunaikan sholat Ied bersama-sama,” terangnya dengan menggunakan bahasa Jawa kuno.

 

(Khozin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *