KENDAL, RADARPOSNUSANTARA.COM – Problematika pasar weleri yang tak lama ini selesai dibangun tak kunjung usai. Masih banyak keluhan pedagang yang juga tak kunjung diselesaikan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) dengan baik. Kamis (06/02/2025)
Menguras APBD sebanyak 55 milyar dalam pembangunan Pasar Weleri Tahap I yang terlihat mewah itu, menyisihkan cerita sesalan sendiri dari para pedagang yang sudah menempati los kios beberapa bulan terakhir sejak pasar weleri di buka.
Ada beberapa keluhan pedagang yang disampaikan saat awak media radarposnusantara.com melakukan penelusuran di dalam pasar weleri yang tampak mewah dari depan itu.
Salah satunya adalah, masih banyak pedagang pasar yang mengeluhkan jika didalam pasar weleri lantai dua masih sering bocor, hal ini disampaikan beberapa pedagang yang berada di lantai dua sebelah barat pasar saat awak media melihat kondisi disana.
“Disini masih bocor, air merembes melalui ventilasi angin, kalau hujan ya seperti ini terus. Ini saja kami sampai menguras genangan air dan membersihkan lantai sampai 3 kali dalam sehari. Bahkan kaki saya sampai gatal terkena kutu air. Ini setiap hari kami lakukan sejak musim hujan tiba,” keluh salah satu pedagang yang tidak mau disebutkan namanya itu
Tak hanya itu, bahkan di salah satu kios busana, terjadi kebocoran dari rembesan plavon yang cukup parah, hingga membuat dagangan busananya 80% basah. Saat kami temui di lokasi sedang membersihkan lantai dan menaruh ember untuk menampung tetesan air yang lumayan deras mengucur dari plavon di dalam kiosnya.
“Iya disini parah, hampir rata – rata yang lantai dua bagian barat ini plafon di kiosnya rembes makanya pedagang yang lain yang kebagian disini enggan menempati, ini dagangan saya semuanya basah terkena rembesan air hujan. Pasar dibangun bukan tambah bagus malah semakin parah,” protesnya dengan nada kesal.
Seorang ibu yang usianya sudah sepuh, pedagang kerupuk emping mentah, saat itu membuat awak media merasa iba, dia menuturkan bahwa dagangan kerupuk emping mentahnya sering basah bahkan sampai berjamur terkena cipratan air dari atas.

“Dagangan saya basah kalau terjadi hujan terkena cipratan air dari atas yang melalui ventilasi angin yang besar itu, jadi kami terpaksa setiap hari membersihkan genangan air dan juga mengamankan dagangan ketika hujan turun. Apalagi sebelah barat ini sering terjadi seperti ini, tadi saja kami bergotong royong membersihkan genangan air sampai tiga kali, saya sampai kedinginan. Disini jarang dilewati orang karena lantainya becek, para pembeli malas lewat sini,” ceritanya kepada awak media radarposnusantara.com
Saat awak media tanyai beberapa pedagang apakah sudah melaporkan hal tersebut ke pihak pengurus pasar mereka menjawab, sudah, namun tak kunjung ditangani.
“Kami sudah berkali – kali menyampaikan ke pengurus pasar tapi tidak segera ditangani keluhan kami,” tutur mereka.
Bima