SURAKARTA – RADARPOSNUSANTARA.COM-Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) Kota Surakarta berlangsung meriah dan sarat makna di Sasono Krido, Kompleks Pendopo Mangkubumen, Sabtu malam 30/1. Acara yang dikemas dalam balutan seni budaya rakyat ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Surakarta dan Wakil Wali Kota Surakarta, jajaran Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida), Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surakarta Ario Bimo, tokoh senior PDI Perjuangan FX Hadi Rudyatmo, para kader partai, serta masyarakat umum.

Berbeda dari perayaan ulang tahun partai politik pada umumnya, peringatan 53 tahun PDI Perjuangan di Kota Solo kali ini sengaja dirancang terbuka, inklusif, dan membumi. Pagelaran wayang kulit dengan tajuk Wayang Kampung Sebelah dipilih sebagai medium utama, menegaskan watak PDI Perjuangan sebagai partai yang lahir, hidup, dan berakar di tengah rakyat.
Hiburan Rakyat Tanpa Sekat Atribut
Ketua Panitia perayaan menjelaskan bahwa kegiatan ini digelar murni sebagai hiburan rakyat, tanpa kewajiban atribut partai dan tanpa sekat antara kader, simpatisan, maupun masyarakat umum.
“Ini atas instruksi Ketua DPC. Nanggap wayang kampung sebelah ini memang pure untuk hiburan rakyat. Hiburan rakyat artinya macam-macam, bukan hanya kader partai, tapi semua rakyat. Jadi tidak memakai atribut juga tidak apa-apa,” ujarnya.
Pendopo Mangkubumen yang selama ini menjadi ruang publik dan pusat aktivitas UMKM pun dioptimalkan. Panitia menyediakan 1.000 voucher belanja yang dapat digunakan pengunjung untuk membeli aneka kuliner dari puluhan pelaku UMKM yang rutin berjualan di kawasan tersebut.
“Di sini ada 24 UMKM yang rutin. Kita siapkan 1.000 voucher. Harapannya voucher ini habis dan bisa membeli semua jualan UMKM di sini. Sudah kita hitung bersama Ketua Paguyuban UMKM, Mas Suwarno, supaya merata dan semua merasakan manfaat,” kata Ketua Panitia. YF Soekasno
Voucher tersebut dibagikan kepada pengunjung yang hadir saat pagelaran berlangsung dan dapat langsung ditukarkan di stan-stan UMKM sesuai selera. Mulai dari nasi liwet, es duren, wedangan, jagung bakar, hingga berbagai sajian khas rakyat tersedia sepanjang malam.
Menariknya, panitia secara sadar tidak menyiapkan konsumsi khusus, termasuk bagi tamu VIP. Para tamu kehormatan, termasuk pimpinan partai, justru diajak Ketua DPC untuk berkeliling dan makan bersama di lapak-lapak UMKM.
“Panitia tidak menyediakan apa-apa. Bahkan tamu VIP nanti akan diajak Pak Ketua DPC untuk muter makan di UMKM. Ini berlaku hanya saat pentas berlangsung,” ujarnya menegaskan.
Momentum Refleksi 53 Tahun PDI Perjuangan
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surakarta Ario Bimo dalam sambutannya menegaskan bahwa usia 53 tahun merupakan momentum reflektif bagi PDI Perjuangan, bukan sekadar perayaan seremonial.
“53 tahun ini bukan usia muda, tapi juga belum terlalu tua bagi sebuah partai. Ini waktu yang tepat untuk refleksi, apa saja yang sudah dilakukan PDI Perjuangan, khususnya di Kota Solo,” kata Ario Bimo.
Ia mengingatkan bahwa PDI Perjuangan memiliki sejarah panjang di Surakarta. Hampir lima periode, partai berlambang banteng moncong putih itu terlibat aktif dalam memikirkan dan membangun Kota Solo melalui berbagai kontestasi politik dan kebijakan publik.
Ke depan, kata dia, PDI Perjuangan berharap tetap menjadi mitra strategis Pemerintah Kota Surakarta, dengan fokus pada kebijakan-kebijakan kerakyatan dalam bingkai kebhinnekaan dan multikulturalisme.
“Kota Solo ini kota yang sangat multikultural. Harapannya Solo semakin teduh, semakin guyub, dan mampu mewujudkan peradaban budaya yang luar biasa,” ujarnya.
Menurut Ario Bimo, persoalan utama saat ini bukanlah menang atau kalah dalam kontestasi politik. Tantangan terbesar justru terletak pada menurunnya kepercayaan publik terhadap partai politik dan lembaga legislatif.
“Produk partai politik, termasuk DPR, hari ini berada di peringkat kepercayaan publik paling rendah. Ini PR besar. Bagaimana kita mengajak seluruh partai politik di Kota Solo untuk bersama-sama mengembalikan kepercayaan publik,” tegasnya.
Ia menilai resistensi publik terhadap partai politik semakin nyata, tercermin dari berbagai aksi demonstrasi dan sikap apatis masyarakat, termasuk generasi muda.
“Survei menunjukkan 97 persen Gen Z tidak suka partai politik dan tidak ingin bergabung dengan partai. Kalau rakyatnya saja tidak suka partai, mau jadi kandang siapa pun ya tidak bisa,” katanya lugas.
Mendengar Suara Rakyat Lewat Wayang
Pilihan Wayang Kampung Sebelah bukan tanpa alasan. Ario Bimo menekankan bahwa pagelaran ini bukan menyuarakan narasi elit atau kepentingan partai, melainkan ekspresi suara rakyat kecil.
“Wayang ini menyuarakan urusan kesehatan, MCK, daya beli, kebutuhan pokok, pendidikan, dan persoalan-persoalan sehari-hari rakyat. Kita ingin mendengarkan itu semua,” ujarnya.
Narasi Mahabharata yang dibawakan dalang diperkaya dengan konteks kekinian, menjadi ruang refleksi sosial sekaligus kritik yang membumi. Bagi PDI Perjuangan, seni budaya menjadi sarana dialog yang jujur antara partai dan rakyat.
“Pertanyaannya sederhana, apakah PDI sebagai Partai Rakyat dan Partai Wong Cilik masih bisa mewujudkan itu semua? Ini yang ingin kita dengarkan dari rakyat,” kata Ario Bimo.
Ia juga menegaskan bahwa PDI Perjuangan tidak ingin terjebak dalam euforia kekuasaan semata. Orientasi utama saat ini adalah membangun kembali kecintaan rakyat terhadap sistem demokrasi dan partai politik sebagai instrumennya.
“Enggak usah mikir menang dulu. Berbuatlah baik semaksimal mungkin untuk rakyat. Kalau rakyat sudah cinta pada partai dan demokrasi, urusan menang itu nomor dua, tiga, atau empat,” ujarnya.
Wali Kota Surakarta yang hadir bersama Wakil Wali Kota menyampaikan ucapan selamat ulang tahun ke-53 kepada PDI Perjuangan. Dalam sambutannya, Wali Kota menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan seluruh elemen politik untuk memajukan Kota Solo.
“Saya mengucapkan selamat ulang tahun ke-53 untuk PDI Perjuangan. Saya tidak bisa bekerja sendiri. Saya membutuhkan bantuan, dukungan, dan kerja sama dari seluruh kader PDI Perjuangan untuk memajukan Kota Surakarta,” ujar Wali Kota.
Ia menilai PDI Perjuangan memiliki peran historis dan strategis dalam pembangunan Kota Solo, baik melalui jalur eksekutif maupun legislatif. Sinergi yang sehat antara pemerintah dan partai politik, menurutnya, menjadi kunci menghadapi tantangan kota ke depan.
Wakil Wali Kota Surakarta menambahkan bahwa semangat kerakyatan dan budaya yang ditampilkan dalam perayaan ini mencerminkan jati diri Kota Solo. Ia berharap nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan gotong royong terus dijaga.
Turut hadir dalam acara tersebut tokoh senior PDI Perjuangan FX Hadi Rudyatmo yang dikenal memiliki jejak panjang dalam sejarah politik Kota Solo. Kehadirannya menegaskan kesinambungan nilai dan perjuangan PDI Perjuangan dari generasi ke generasi.
Jajaran Muspida Kota Surakarta juga tampak hadir, menandakan dukungan dan penghormatan terhadap perayaan yang berlangsung tertib dan kondusif.
Hingga malam larut, masyarakat tampak antusias menyaksikan pagelaran wayang, menikmati kuliner UMKM, dan berbaur tanpa sekat. Tidak ada atribut partai yang mendominasi. Yang terasa justru suasana guyub, hangat, dan egaliter.
Perayaan HUT ke-53 PDI Perjuangan Kota Surakarta pun menjadi lebih dari sekadar ulang tahun partai. Ia menjelma ruang perjumpaan antara politik, budaya, dan rakyat, sebuah upaya kecil namun bermakna untuk merawat demokrasi dari akar rumput.
( Tim Red )