Masyarakar Minta Puskesmas Kecamatan Ngampel Serius Antisipasi Munculnya Penyakit Demam Berdarah

KENDAL,RADARPOSNUSANTARA.COM – Memasuki musim pancaroba, penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi momok yang sangat menakutkan, apalagi bagi negara tropis seperti Indonesia. Bagaimana tidak, penyakit ini banyak menelan korban jiwa, terlebih anak-anak.

Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), angka kasus DBD pada tahun 2023 juga meningkat di sejumlah daerah. Hingga Oktober 2023, jumlah kasus DBD di Indonesia tercatat telah mencapai 68,996 kasus, 29 persennya dialami oleh anak berusia 5-14 tahun.

Tingginya angka tersebut utamanya disebabkan pada kondisi anak yang memang rentan terkena infeksi virus dengue.

Di Kecamatan Ngampel Kabupaten Kendal, pada bulan Oktober 2023 sudah ada 10 (sepuluh) anak yang diduga terkena Demam berdarah Dengeu (DBD).

Data tersebut diperoleh dari Klinik Pratama Rawat Inap Baiturrokhim desa Banyu Urip Kecamatan Ngampel.

Menurut perawat Klinik Baiturrokhim Yuni Rahmawati, jumlah tersebut hanya yang rawat inap di Kliniknya, diluar itu ia tidak mengetahuinya,

“Angka itu hanya di bulan Oktober 2023 dan yang dirawat di klinik Baiturrokhim saja,” tandasnya lagi, Kamis 26/10/23.

Menurut Yuni rata-rata anak yang berobat di kliniknya setelah melalui observasi, diagnosa dokter menyatakan demam berdarah.

“Yuni juga menjelaskan bahwa penyakit DBD disebabkan oleh infeksi virus dengue yang ditularkan lewat gigitan nyamuk betina berjenis Aedes Aegypti. Salah satu indikasinya adalah menurunnya jumlah trombosit hingga di bawah angka 100.000/mm3,” terang Yuni

Terkait dengan hal tersebut, awak media ini mencoba mengkonfirmasi ke Kepala Puskesmas Kecamatan Ngampel, untuk menanyakan upaya apa saja yang sudah dilakukan oleh pihaknya terkait dengan munculnya penyakit demam berdarah diwilayah kerjanya.

Namun Jawaban Puskesmas Ngampel Lewat Ibu Tami Bagian Tata Usaha yang mewakili Kapus sangat normatif, ia hanya menerangkan dengan panjang lebar tentang prosedur dan tahapan penanganan bila terjangkit DBD dilingkungan masyarakat.

“Terima kasih banyak atas info yang telah bapak kirimkan ke kami
segera kami sampaikan ke programer dan kepala Puskesmas untuk ditindak lanjuti,
matur suwun,” ucap Tami usai kami kirimi data anak yang terjangkit DBD.

Setelah mendapatkan kiriman data, Sabtu 20/10/23, Bidan desa dan Programer Puskesmas mengadakan kunjungan ke rumah pasien dengan melakukan Pemeriksaan kamar mandi (PSN)

“Kamar mandinya bersih, mungkin terjangkit dari luar mas,” kata Reza orang tua pasien menirukan ucapan petugasnya.

Ditambahkan oleh Programer Puskesmas, Kasus terjangkitnya Pasien yang dikunjungi tersebut belum termasuk yang membahayakan karena trombositnya masih 70.000/mm³.

“Tidak semua kasus terkait DB harus dilakukan fogging karena ada beberapa indikasi yang harus terpenuhi,” terang Tami lewat wa.

Apa yang disampaikan Petugas dari Puskesmas ini memang sangat memprihatinkan, pasal nya pelaksanaan Fogging hanya akan dilakukan saat demam berdarah dinyatakan berbahaya saja.

“Bila pada satu klinik saja sudah puluhan anak yang terjangkit apa itu belum cukup sebagai dasar dilaksanakan Fogging, bukanya mencegah itu lebih penting,” keluh orang tua pasien.

 

Penulis : A Khozin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *