KENDAL,RADARPOSNUSANTARA.COM – Saya dapat laporan, bahwa lapangan ini mampu menampung sekitar 20 ribu orang. Awalnya saya pesimis, jika masyarakat yang hadir nanti tidak lebih dari 20 ribu orang. Tapi ternyata di luar dugaan, justru yang hadir lebih dari 40 ribu orang.
Hal itu dikatakan Bupati Dico Ganinduto saat memberikan arahan Kepada hadirin yang datang pada acara “Kendal Bersholawat” dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) ke-9 dilapangan Desa Ngadibolo Kecamatan Boja, Sabtu 18/11/23.
Lebih lanjut Bupati menyatakan kekagumannya dengan masyarakat Boja yang dengan antusias menghadiri acara tersebut.
Selanjutnya Dico berharap kepada semua santri Khususnya yang ada di Kabupaten Kendal mampu menjaga Ahlak yang baik serta mempunyai sumber daya manusia yang unggul dan berkwalitas, sehingga Kedepan Kendal sudah punya stok SDM yang mumpuni.
Dico juga berharap, kepada semua santri khususnya yang ada di Kabupaten Kendal, bisa mempunyai kualitas sumber daya manusia yang mumpuni, sehingga jika para santri punya keinginan untuk maju, Kabupaten Kendal ke depan akan lebih baik lagi.
Namun harapan Bupati tidak linier dengan Fakta dilapangan, saat pelaksanaan event besar tersebut berlangsung, hal ini disebabkan lemahnya panitia dalam mengantisipasi membludaknya pengunjung,
“Bertempat di stadion utama Kendal saja, pengunjung membludak sampai diluar arena, ini kok malah milih lapangan yang ada di tengah kampung,” sesal pengunjung kepada awak media ini.
Salah satu pengunjung lainnya Rohmiyatun (42) warga tampingan boja, juga menyayangkan cara kerja panitia, pasalnya lokasi-lokasi masuk ke arena justru dipadati oleh para penjual, sehingga para pengunjung kesulitan untuk masuk.
“Harusnya ditata dari awal, lokasi mana yang boleh didirikan lapak, dan mana yang tidak boleh,” gerutunya.
Selain itu, tempat parkir pun sangat tidak teratur dan saling tumpang tindih.
“Nampaknya Panitia kurang kordinasi sama Ormas, Komunitas atau Karang taruna setempat guna mengelola parkir,” ucapnya dengan kesal.
Senada dengan Rohmiyatun, warga Limbangan Suharno (52) juga merasa kecewa dengan Dishub, sebab jalan di arena masuk tidak diatur sedemikian rupa, sehingga arus lalu lintas saling bertabrakan.
“Harusnya kan dilakukan rekayasa lalu lintas, agar tidak bertabrakan, yang dari barat dilewatkan dimana, begitu sebaliknya,” ucapnya.
“Akibat dari itu, akhirnya pengguna jalan yang dari Kaliwungu atau sebaliknya, stagnan di lokasi,” tambahnya.
Tim