KENDAL-RADARPOSNUSANTARA.COM – Hadir menyapa langsung rakyat kecil di Kendal, Caleg DPR RI dari Dapil Jateng 1 Nomor urut 5 dari PDI Perjuangan Dyah Kartika Rini punya cara yang unik untuk menyapa pemilih, yaitu menggunakan teknologi Geospatial Information System dan Artificial Intelligence (AI).
Namun berbeda dengan penggunaan AI oleh politikus lain yang hanya mengeksploitasi kecerdasan buatan untuk mereka gambar lucu, Dyah menggunakannya sebagai alat evaluasi dan prediksi yang ikut dinikmati manfaatnya oleh ribuan pengusaha kecil dan mikro.
“Dalam waktu secepat mungkin, tim kita memetakan posisi ribuan UMKM ini, dicatat datanya dengan GIS, lalu dengan bantuan AI, diukur potensinya, kemungkinan link dengan usaha lain, dan dibantu mempromosikan kepada publik agar terhubung dengan pembeli maupun pemasok. Ini manfaat yang lebih besar dan berkelanjutan, dibanding sekedar money politic yang hanya dirasakan sesaat,” Jelas Dyah kepada awak media ini, Kamis 08/02/2024.
Saat ini ribuan UMKM dengan produk hasil pengolahan pertanian dan kelautan ini bisa ditemukan dengan bantuan Google Maps. Dan tahap selanjutnya akan dibina agar bisa pula terdaftar di ecommerce seperti Gofood, Tokopedia, Shopee dan lainnya.
“Upaya ini mewujudkan visi dan misi Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, sebagai calon Presiden PDI Perjuangan, bahwa hilirisasi tidak seharusnya berhenti di nikel saja, tapi juga kelautan dan perikanan. Rakyat didorong mengolah kekayaan alamnya sendiri dan menjualnya dengan harga berlipat ganda. Banyak petani dan nelayan mengeluh harga jual produknya rendah dan malah dinikmati daerah tetangga, mereka sendiri tidak menikmati,” terang Dyah usai kunjungannya ke pasar Srogo Brangsong.
Menurut Dyah, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin masif turut dimanfaatkan dalam Pemilu 2024. Jika dimanfaatkan dengan baik maka AI bisa membuat kampanye untuk mensosialisasikan program kerja menjadi cepat dan kreatif, meski di sisi lain ada potensi penggunaan AI untuk menyebar hoaks dan kampanye hitam.
Kordinator Team Canvassing dan Pijar Indonesia Cyber team Hariadhi menjelaskan bahwa perkembangan teknologi bisa digunakan untuk hal positif ataupun negatif, oleh karena itu penggunaan AI dalam Pemilu fungsinya untuk meringankan tugas calon legislatif ataupun calon kepala daerah dan Capres dalam proses Pemilu 2024.
Hariadhi menilai, penggunaan teknologi ini juga sebagai bentuk evaluasi terhadap tim kampanye dan canvassing, karena setiap detail aktivitas bisa diawasi langsung dan terukur dampaknya kepada calon pemilih.
“Kita membagikan alat peraga yang terpasang dengan kerelaan dari masing-masing calon pemilih. Dengan bantuan jaringan Pijar yang melibatkan peran perempuan, bahkan banyak yang tanpa kita minta memilih mengkampanyekan sendiri secara sukarela. Rakyat mendukung Ganjar dan PDI Perjuangan dengan semangat kolaborasi, dengan cara mereka sendiri-sendiri,” tegasnya.
Sementara itu, Caleg DPRD Kendal dari Dapil II Agus Siswanto menilai penggunaan teknologi AI dalam Pemilu seperti pedang bermata dua, sehingga harus digunakan dengan positif termasuk menghemat kampanye dan menghindari kecurangan.
“Penggunaan teknologi harusnya bukan sekedar gimmick kampanye, namun benar-benar memecahkan masalah yang menjadi beban rakyat. Itu janji kita kepada pemilih,” jelas Agus Siswanto yang biasa di kenal dengan Agus Pajero.
Pihaknya menyadari bahwa penggunaan teknologi AI berikut penerapannya juga tidak semudah teorinya, perlu kajian yang mendalam.
“Saya kira penggunaan teknologi pada Pemilu ini memang perlu didiskusikan dengan seluruh pemangku kepentingan. Dan butuh persiapan yang matang mulai dari aturan sampai alat penunjang, sehingga Pemilu bisa murah, cepat dan transparan,” tutupnya.(*)
Penulis : A. Khozin.