Kehadiran Gus Miftah Di Acara Pasar Murah Dan Ngabuburit di Alun-Alun Kendal Sepi Pengunjung Usai Pilpres

KENDAL | RADARPOSNUSANTARA.COM – Sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, Indonesia sangat lekat dengan ritual keagamaan baik secara simbolik dan substantif, Kyai merupakan simbol agama Islam yang sangat dihormati dan ditaati, mereka tidak hanya mengajarkan tuntunan agama, tapi lebih dari itu, ia juga mengajarkan tentang pengorbanan dan menumbuhkan perasaan cinta tanah air (Khubbul Wathon Minal Iman) kepada para santri dan masyarakat sekitar.

Namun saat ini banyak sekali para kyai, ustad, Habaib, yang menggadaikan perjuangannya dari jalur dakwah beralih ke jalur pragmatisme politik.

Mereka berbondong-bondong menjadi becking politik dengan terjun mendukung para Paslon, tentunya dengan membawa agama sebagai senjata pemikatnya.

“Tentu dengan tujuannya masing-masing,” sindir Moh Amin, warga Petukangan terhadap sepinya jamaah yang hadir.

Bahkan mereka (para Ulama), tidak malu-malu bertengkar secara terbuka dihadapan publik (di TV, Podcast) dengan memainkan narasi-narasi yang paling dianggap benar dan masuk akal, dan itu di lihat langsung oleh para jamaahnya.

Jualan-jualan agama yang disampaikan para pemuka agama, yang pada akhirnya tidak terbukti, seperti dapat dompet dari syurga, munculnya Imam Al Mahdi dan lain-lain, sikap-sikap itulah yang mendegradasi kehormatan dan status yang dia sandang.

Fakta menunjukan, di Kabupaten Kendal ada tokoh ulama besar, mencalonkan anaknya di Pilkada saja tidak jadi, bahkan pada Pileg 2024 dari seluruh dinastinya yang jadi hanya satu, yang lain berguguran, padahal pada spanduk dan MMT nya terpampang foto orang tuanya.

Artinya, bahwa pengaruh seorang kyai dalam elektoral, ternyata tidak begitu signifikan, karena masyarakat cenderung lebih percaya pada pilihannya.

Seperti halnya yang terjadi pada Kyai Kondang, Gus Miftah, saat dia berada di jalurnya dengan berdakwah, sungguh tak di duga, ratusan ribu masyarakat berbondong-bondong hadir untuk mendengarkan tausiyahnya,

Namun berbeda saat ini, usai ia terjun kedalam politik dengan mendukung salah satu Paslon serta tampil dihadapan publik tidak lagi dengan bahasa dakwahnya, maka, saat itu juga pamornya langsung hilang.

“Dunia politik itu banyak tidak jujurnya, faktanya A bisa dikatakan B, berbeda dengan agama, yang halal ya dikatakan halal, sedang yang bathil ya dikatakan bathil,” gerutu Sobirin warga Bandengan.

“Kalau kyai terjun di politik apalagi ikut kampanye, pasti banyak bohongnya, jamaah jadi nggak percaya,” tambahnya.

Seperti kehadiran Gus Miftah di Alun-alun Kendal bersama Percil dengan tajuk Pengajian Umum, pasar murah dan Ngabuburit bersama percil hanya di hadiri segelintir orang, sepertiga dari alun-alun Kendal pun tidak penuh.

Padahal menurut salah satu pejabat yang tidak mau disebutkan namanya, layer pengajian itu jauh-jauh hari sudah disebar ke seluruh pelosok Kabupaten Kendal, namun kenyataanya, yang hadir hanya ratusan orang.

“Untuk menarik agar bersedia datang, Pemda masih memberikan iming-iming berupa buka gratis untuk 3 ribu orang, serta pasar murah,” kata pejabat tersebut.

“Namun nampaknya masyarakat sudah tidak on fire lagi dengan kehadiran Gus Miftah,” tambah Supardi warga Tegalsari.

Bahkan di Face book, salah satu akun bernama Mia San Mia mengatakan dilihat dari rekam jejaknya, orang munafik kok di dengar omonganya.

Kekecawaan yang dalam juga disampaikan oleh salah satu santri Muhammad Ryan Ubaidillah dari Pondok Pesantren Darul Muqortobin Kendal, sebagai kaum milinial ia berpendapat apabila seorang ulama masuk politik, sebaiknya jangan meninggalkan Marwah santrinya,

“Boleh ulama masuk politik, agar negara ini menjadi lebih baik lagi,” harapnya.

Pandangan berbeda justru datang dari seorang pensiunan guru, Muhammad Amin, warga Petukangan tersebut berharap agar ulama tetep pada jalurnya yaitu menyampaikan risalahnya kepada umat, jangan sampai masuk kedalam Pragmatisme politik yang penuh dengan ketidak jujuran.

“Sampai dengan Indonesia tidak lagi ada bencana,” ujarnya, Kamis 04/04/24.

Dalam pemilu 2024 khususnya pada Pilpres, kita dapat menyaksikan dan membaca bersama deretan Kyai yang berada di setiap Paslon.

paslon nomer urut 01 yaitu Anies Rasyid Baswedan dan Muhaimin Iskandar ada deretan nama seperti Abdul Somad (Da’I Nasional), K.H. Maksum Faqih (Pengasuh Pondok Pesantren Langitan, Tuban), K.H. Nasrul Machasin (Pimpinan Pondok Pesantren Al-Tahfidzul Qur’an Narukan), dan.lain-lain.

Pada kubu paslon nomer 02 yaitu Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka juga ada Habib Muhammad Luthfi bin Yahya (Ketua Jam’iyyah Ahlu Thoriqoh al-Mu’tabarah An-Nahdliyah), K.H. Ali Masykur (Ketum PP. ISNU), K.H. Abdul Ghofur (Pengasuh Pondok Sunan Drajad, Lamongan), dan lain-lain.

Kemudian pada kubu paslon nomer 03 yaitu Ganjar Pranowo dan Mahfud MD antara lain K.H. Arwani Thomafi (Pengasuh Pondok Pesantren Lasem, Rembang), K.H. Atho’illah Asy’ari (Pengasuh Pondok Al-Asy’ariyah, Wonosobo), K.H. Agus Masruri (Pengasuh Pondok Al-Hikmah, Sleman), dan lainnya,

 

(A Khozin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *