Ironis Sekali, Rangkaian Acara Sakral Larungan Sedekah Laut (Lombanan) Yang Sudah Menjadi Tradisi Tahunan, Malah Sebagian di Tiadakan Dengan Alasan Anggaran

JEPARA – RADARPOSNUSANTARA.COM |Sedekah Laut Larungan (Lombanan) yang telah di menjadi tradisi masyarakat pesisir pantai Jepara, khususnya warga kelurahan Ujungbatu, Jepara. Larungan Sedekah laut telah dilaksanakan Masyarakat Pesisir Jepara dari ratusan tahun lalu, Dan kini prosesinya di tangani langsung oleh dinas pariwisata dan kebudayaan (Disparbud) kab Jepara. Prosesi Larungan sedekah laut sudah menjadi agenda kegiatan Budaya dan menjadi daya tarik pariwisata yang patut di lestarikan. Rabu, (17/04/2024)

Rangkaian Acara yang sakral bagi warga pesisir jepara, hendaknya jangan di ubah atau di kurangi rangkaian acaranya. Karena bisa mengurangi keafdolan sebuah kegiatan yang sudah menjadi tradisi tersebut.

Pasalnya dalam kegiatan Sedekah Laut (Lombanan) tahun ini, Banyak prosesi Acara dan kegiatan pendukung yang di tiadakan dengan alasan minimnya anggaran.

Beberapa prosesi Lombanan yang di tiadakan:
• Arak-arak’an Kerbau yang akan di sembelih dari TPI Ujungbatu ke Rumah Pemotongan Hewan (RPH), Dengan di iringi Sholawat, Do’a dan Rebana.

• Acara Tarian-tarian Khas Nelayan (menandakan suka cita Nelayan menyambut Pesta Lomban) saat mengantar Kepala Kerbau beserta propertinya dari rumah sesepuh Desa Ujungbatu ke TPI.

• Pagerlaran Wayang Kulit yang Biasanya di selenggarakan 1malam 1hari, kini hanya semalam saja.

• Kerbau yang di sembelih lebih kecil dari biasanya.

• Acara Perang Kupat & Lepet yang biasa di laksanakan setelah acara Larungan, bertempat di pantai kartini.

Hal ini sangat disayangkan oleh beberapa warga Nelayan, karena dianggap kurang komplit dan meriah dalam susunan Acara Larungan (Lombanan) tahun ini. Salah satunya Mbah Hasim sesepuh warga Ujungbatu mengatakan, Acara Sakral Bagi masyarakat Nelayan kayak begini kok main pangkas aja, Bukan di meriahkan malah di tiadakan.

“Ini acara yang sakral bagi warga pesisir, Para Nelayan khususnya. kenapa kok harus di minimalisir prosesinya, Ironis” Ungkap Mbah Hasim.

Para pengunjung yang Datang ke Obyek wisata Pantai Kartini untuk menyaksikan Acara Perang Kupat Lepet, Yang biasa di selengarakan Setelah prosesi Larungan. Mereka terpaksa harus menelan rasa kekecewaan, karena tidak tahu acara perang kupat lepet di tiadakan dalam susunan acara Lomban tahun ini.

Seperti yang di rasakan Ari warga Tahunan Jepara, Dia sekeluarga Awalnya bersuka cita berbondong-bondong datang ke Pantai Kartini. Dengan harapan dapat menyaksikan kemeriahan Acara yang terselengara hanya setahun sekali itu, Tetapi malah ditiadakan.

“Kami sekeluarga awalnya bersemangat berangkat ke Pantai Kartini pagi-pagi sekali, Dengan harapan tidak akan terlambat untuk menyaksikan perang kupat lepet, eh malah ditiadakan. Tau gitu kami enggak buru-buru berkunjungnya” Sesal Ari, Salah satu pengunjung OW pantai Kartini.

Semoga tahun depan ada pemberitahuan Rundown Acara lewat medsos maupun selebaran dari penyelenggara Pagelaran, Disparbud atau Kominfo. Terkait kegiatan yang sifatnya untuk konsumsi publik, Agar para calon pengunjung bisa merencanakan Kedatangannya, Bukan tiba-tiba mentiadakan Prosesi acara tahunan yang sudah berjalan tanpa ada pemberitahuan. Imbuh Ari

(Donie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *