- KOTA PEKALONGAN-RADARPOSNUSANTARA.COMB-Belum lama sebuah video viral skandal seks yang dilakukan oknum guru di Gorontalo yang memaksa siswinya untuk berhubungan intim, kini dunia pendidikan tercoreng kembali dengan ulah oknum guru yang melakukan tindakan pelecehan verbal di kota Pekalongan, Jawa Tengah, yang ternyata dilakukan setahun terakhir ini.
Akibat adanya dugaan pelecehan verbal terhadap puluhan siswi SMAN 3 Pekalongan.
Pada Rabu (2/10/24) sekitar 60 puluhan siswa didampingi dari LBH Adyaksa melakukan aksi demo atau unjuk rasa di halaman sekolah SMAN 3 yang berlokasi di Jalan Progo No.28, Dukuh, Kec. Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Jawa Tengah.
Adapun oknum guru tersebut adalah seorang guru Bimbingan Konseling (BK) bernama CS (40th).
Hal ini dikatakan beberapa korban yang menceritakan bahwa dirinya menjadi korban pelecehan verbal oleh guru BK tersebut.
” Benar oknum guru tersebut memanggil para siswi secara bergiliran ke ruang BK dengan alasan wawancara terkait kesehatan sekolah dan pencegahan kenakalan remaja. Akan tetapi pertanyaan yang diajukan sering kali menyimpang dari tujuan tersebut.pertanyaannya sangat pribadi, seperti mengetahui siswi tersebut sudah pernah ciuman, tanya warna celana dalam, dan bra ukuran berapa.”tutur salah satu siswi yang tidak mau disebutkan namanya.
Dalam aksi demonya para siswa menuntut kepada pihak sekolah untuk :
1. Menolak keras segala bentuk pelecehan verbal maupun non verbal terhadap siswa siswi SMAN 3 Pekalongan.
2. Menindak tegas pelaku pelecehan sesuai dengan hukum yang berlaku.
3. Menuntut pihak sekolah untuk mengeluarkan oknum pelaku dari SMAN 3 Pekalongan.
Sementara Kepala SMAN 3 Pekalongan, Yulianto Nurul Furqon,MPd saat hendak dikonfirmasi lewat telepon genggamnya,tidak bisa karena masih berada di Semarang (kamis,3/10/24-red)
Saat ditanya kapan bisa ketemu, Yulianto menjawab belum bisa memastikan.
Akhir-akhir ini, kita kembali dikejutkan dengan sederet berita memprihatinkan tentang kekerasan pelecehan seksual pada anak. Meskipun memilukan hati, namun keberanian korban ataupun keluarganya untuk melapor patut dihargai. Hal ini karena kebanyakan korban pelecehan seksual justru lebih memilih bungkam dan menutup rapat-rapat mengikuti stigma masyarakat yang menganggapnya sebagai aib. Terlebih kekhawatiran orang tua terhadap masa depan anaknya yang setidaknya sudah ternodai oleh perilaku bejat para oknum pelaku pelecehan seksual.
Sementara itu salah satu warga yang tidak jauh dari lingkungan sekolah tersebut yang enggan disebutkan namanya berujar, ” Semakin bungkamnya korban dan keluarganya justru semakin membiarkan oknum pelaku bisa jadi tambah korbannya lebih banyak lagi. Baik siapapun pelakunya terlepas dari latar belakangnya, kebanyakan anak dibawah umur masih menjadi incaran sebagai sasaran pelecehan seksual. Betapa buruknya hal ini karena anak-anak merupakan generasi penerus bangsa, jika mental dan kepribadiannya tercederai,’ tutur salah satu warga
Kemudian Saat kami mintai keterangan kepada salah satu satpam yang jaga dipos depan, Jumat (4/10/24) “bahwa terduga pelaku oknum guru tersebut sudah tidak lagi berangkat mengajar.* (Ifan Pkl)